MAWAR DAN
MELATI
Aku dan
Melati sudah lama berkawan. Sejak kecil kami selalu bersama, mungkin karena
jarak rumah kami yang dekat, dan mungkin juga karena umur kami yang sama. Namun
kami mempunyai sipat yang sangat bertolak belakang, Melati mempunyai sipat yang
sangat lembut seperti bidadari, sedangkan aku mempunyai sipat seperti
laki-laki, yaitu keras dan suka bertualang. Namun meski begitu kami sangat
cocok dan selalu saling mengisi satu sama lain didalam suka dan duka.
Kami
tinggal di sebuah desa yang sangat asri dan indah, sehingga banyak orang kota
yang membuat villa di daerah kami. Mereka singgah di villa mereka untuk
beristirahat maupun untuk berlibur di daerah kami, sehingga bila saat libur
sekolah tiba banyak sekali orang kota di desa.
Aku dan
Melati bersekolah di SMA yang alamatnya tidak akan aku ceritakan. Kami selalu
berangkat bersama dan pulangpun selalu bersama-sama.
“Mawar,
cepat sedikilah. Nanti kita kesiangan ke sekolah tahu.”Kata Melati kepadaku
pada suatu hari.
“Ya, aku
tahu Melati. Aku akan segera siap-siap.”Jawabku dengan santai.
Aku memang selalu santai untuk berangkat ke
sekolah meski waktu sudah siang dan kadang kami selalu terlambat ke sekolah.
Namun aku tak tahu kenapa meski aku selalu membuat Melati kesiangan tapi dia
selalu menungguku setiap pagi didepan kamarku. Dan seperti yang sudah dikatakan
oleh Melati, kami pun terlambat masuk sekolah. Dan seperti biasa kami pun
dihukum memebersihkan WC.
“Tuh kan,
sudah kubilang pasti kesiangan, tapi kenapa kamu tuh koq susah kalau dibilangin
sih.”Kata Melati kesal.
“Iya deh
maafin aku. Aku kan gak sengaja. Tapi biasanya kan juga seperti ini.”Kataku
mengelak.
“Iya, iya
terserah kamu deh. Aku jengkel kalau sudah berdebat sama kamu.”
“Hahhh,,,
cape banget.”Kataku saat kami sudah berada di kelas.
“Ya iyalah
pasti. Kalian pasti dihukum karena kesiangan lagi kan.”Kata Amel dengan suara
mengejek.
“Diem lu
ah. Gue lagi pusing.”Kataku kasar pada Amel.
“Aaahhh
da…..”Kata Amel terputus karena dipotong oleh Melati
“Sudah,
sudah jangan berdebat dong, sebentar lagi pelajaran dimulai.”Kata Melati
melerai.
![]() |
|||
![]() |
|||
Teng,,
teng,, teng
“Achhchchchch,
akhirnya pulang juga.”Kata Randy
“Ah kamu
Ran, kamu kan di sekolah juga bukannya belajar, tapi malah molor aja kerjaan
lu.”Kataku becanda.
“Eeeehh,
meski aku suka tidur tapi aku mendengar apa yang guru terangkan tadi tahu.”
“Iya deh
iya terserah kamu aja hahahahaha”
“Eh Mawar,
sebentar lagi kan UN dimulai, gimana kalau kita belajar bareng yuk.”Kata
Melati, saat kami sudah menuju rumah.
“Ayo, ayo
aja kalau begitu mah.”Kataku sambil berlari meninggalkan Melati saat tiba di
jalan yang suka membuat Melati takut.
“Hey, Mawar
jangan tinggalin aku dong.”Kata Melati sambil berlari ketakutan.
Tiba-tiba,
“Awwww
awww, Mawar tolong aku.”Kata Melati berteriak kesakitan saat dia terperosok
pada sebuah lubang yang cukup dalam.
Sontak aku
langsung kaget dan berlari kea rah Melati yang kesakitan.
“Mel, kamu
gak papa?”Kataku kaget melihat darah dimana-mana.
“Gak papa
gimana? Ini kakiku sakit banget tahu.”
“Oke, kalau
begitu aku gendong kamu ke puskesmas ya Mel.”
Akhirnya,
aku dengan perasaan kaget membawa Melati dipunggungku ke puskesmas yang tidak
jauh dari tempat kejadian.
“Mbak,
Melati gak papa kan?”Tanyaku pada petugas puskesmas.
“Enggak
papa koq, cuma Melati gak akan bisa berjalan selama beberapa hari saja.”
“Oh
terimakasih ya mbak.”Kataku sambil berjalan perlahan pada ranjang Melati.
“Mel?
Maafin aku ya, gara-gara aku kamu jadi begini.”
“Iya gak
apa-apa koq Mawar. Aku gak kenapa-napa koq. Kamu jangan khawatir gitu dong.”
“Huhhh
siapa juga yang khawatir.”Kataku sambil manyun.
“Itu, liat
kamu nampak khawatir banget.”
“Udahlah
jangan menggodaku begitu. Ayo kita pulang.”Kataku sambil berlalu.
“Hey Mel.
Gimana aku pulangnya? Aku kan gak bisa jalan.”
“oh iya,
aku lupa hahahhaha. Sini aku gendong tuan putri.”
Nah itulah
kisah SMA ku bersama Melati. Kini kami sudah besar dan kami sekarang berbeda
kampus. Aku berada di Universitas di Bandung, dan Melati berada di Universitas
Malang. Kami berkomunikasi hanya lewat surat saja, karena Melati tak mempunyai
handphone. Karena menurutnya, handphone itu buat apa, hanya bikin kita lupa
diri aja.
Namun,
setelah beberapa bulan ini Melati tak pernah lagi mengirim surat padaku, meski
aku sudah beberapa kali mengirim surat padanya, dan akhirnya aku menyerah. Aku
tak pernah lagi mengirim surat padanya, aku hanya menunggu surat darinya.
Akhirnya
tibalah masa wisudaku. Aku akhirnya lulus sebagai S1 dan aku langsung menjadi
dosen di UPI. Aku senang sekali dan aku tak tahan ingin berjumpa dengan Melati.
Aku pulang ke kampong halamanku dengan gembira. Dan aku tak menyangka Melati
juga sudah menjadi dokter spesialis mata di salahsatu Rumah Sakit di Bandung
yang dekat dengan UPI tempat aku bekerja.
Aku
langsung mengunjungi rumah Melati, dan berjumpa dengan Melati.
“Hey Mel!
Selamat ya kamu udah jadi dokter.”Kataku sambil menyodorkan tanganku untuk
berjabat tangan dengan Melati.
“Makasih.”Kata
Melati dengan nada suara tak suka.
“Eh gimana
kabar kamu Mel? Ceritain dong kisah kamu di kampus. Kamu kan udah lama gak cerita
sama aku.”Kataku dengan semangat membara.
“Kamu gak
usah tahu lah.”
“Ya udah
kalau kamu gak mau ngasih tahu mah. Aku nyerah deh.”
Setelah
beberapa lama tanpa ada suara, akhirnya aku mengerti. Melati tak seperti yang
dulu lagi, dia sekarang seperti yang benci sama aku. Aku tak tahu mengapa dia
berubah 180 derajat kepadaku.
Semalaman
aku berrpikir ddan tak bisa tidur dengan sikap Melati kepadaku tadi sore. Aku
masih tak mengerti kenapa dia bisa begitu.
Pagi-pagi
sekali aku sudah dikejutkan dengan kedatangan Randy pacarku.
“Hey Mawar,
selamat pagi!”Teriaknya saat aku sedang duduk manis diruang tamu membaca buku
novel kesukaanku.
“Hey Ran,
koq kamu kesini sih?”
“Aku dan
keluargaku sedang berlibur disini. Jadi kusempatkan mengunjungimu.”
“Oh ya?
Jadi kamu bakalan lama dong disini?”
“Iya lah.
Aku disini selama mungkin 2 bulan. Kami semua mengambil cuti dari perusahaan
ayahku.”
“Oh ya? Aku
juga libur selama 2 bulan loh. Jadi kita bisa menghabiskan waktu disini
sama-sama dong.”
“Sipp,
bagus deh.”
“Oh ya, aku
kenalkan pada sahabatku dulu yuk.”
“Ayo.”
“Mel, mel?
Ayo sini, kukenalkan kau pada seseorang.”Teriakku pada Melati, saat kulihat dia
sedang duduk dipekarangan rumahnya.
“Siapa?”Katanya
tanpa memandang kearahku.
“Nih Randy,
ini pacarku yang dulu aku sering membicarakannya padamu.”
“Ya, aku
mengenalnya jauh sebelum kau mengenal dia.”
“Benarkah?
Bagaimana kau mengenalnya sebelum aku?”
“Ya, karena
dia adalah teman kuliahku dulu sebelum aku pindah ke universitasmu, Mawar.”Kata
Randy memotong pembicaraan kami.
“Oh kukira
kalian belum saling kenal. Bagus deh kalau kalian sudah saling mengenal.
Hahahaha”Kataku sambil tersenyum bahagia.
“Benarkah?”Kata
Melati sambil melangkah pergi meninggalkan kami berdua. Kami hanya bisa saling
memandang saja tanpa mengetahui kenapa dia jadi begitu.
“Kenapa
dia?”Kata Randy heran
Aku sangat
tidak mengerti mengapa dia menjadi berubah sangat dingin kepadaku. Aku tak tahu
mengapa. Namun tiba-tiba pada suatu hari Melati masuk Rumah Sakit. Dokter
bilang penyakit Melati sudah parah, dia terkena leukemia yang tak mungkin bisa
disembuhkan kembali.
“Ya ampun Mel, kenapa kamu tak pernah bicara
tentang hal ini kepadaku? Setidaknya aku ini tahu, karena aku adalah teman
baikmu dari kecil. Teman macam apa aku ini. Temannya sakit aku tak mengetahui
hal itu.”Jawabku sambil menangis didepan Melati yang tidak sadarkan diri.
“Sudahlah
Mawar, jangan terlalu disesali. Ini adalah kehendak Tuhan.” Jawab ibunya
Melati.
“Tante
juga, kenapa ibu tidak pernah memberitahukannya padaku?”
“Tante
tidak memberitahukannya padamu, karena Melati tak mau kau bersedih hanya karena
dia.”Kata ibunya Melati menjelaskan.
Ibunya
Melati menjelaskan begitu detail tentang penyakitnya Melati dan sangkut pautnya
dia menjadi bersikap dingin terhadapku.
Kini aku
mengerti, selama ini dia bersikap dingin dan tak mau bicara kepadaku, itu
karena dia ingin membuat kenangan buruk untukku tentang dia, sehingga aku tidak
terlalu bersedih atas kematiaannya dan dia ingin menyembunyikan semua kesedihan
itu untuk dia seorang. Melati tidak mau jika aku juga ikut bersedih hanya
gara-gara dia.
Aku terus
saja menunggu Melati sadarkan diri. Aku ingin berbicara padanya.
Setelah
beberapa hari Melati tak sadarkan diri, tiba-tiba mata Melati terbuka, dan dia
memanggil namaku berulang-ulang.
“Mawar,
mawar, mawar?”
“Ya aku
disini Mel.”Jawabku sambil menggosok-gosokkan mata karena baru bangun tidur.
“Tante,
paman, Randy, lihat! Melati sudah sadar.”Teriakku bahagia.
“Mawar,
sebenarnya aku sudah terserang penyakit ini sedari kecil dahulu. Saat itu, kau
bertanya padaku kenapa aku selalu mimisan kalau kecapean. Itu adalah awal aku
menderita sakit ini Mawar. Aku merahasiakannya padamu, aku,,, aku,,, aku,,hiks
hiks”
“Sudahlah
aku sudah mengerti koq, ibumu sudah menjelaskannya padaku, jadi kau tak usah
menghabiskan tenagamu untuk menjelaskannya. Tapi, ada satu hal lagi yang
membuat aku kecewa”
“Apa itu?”
“Kenapa kau
tak pernah menceritakan padaku bahwa kau pernah mencintai Randy, dan mungkin
sampai sekarang kau masih mencintainya. Iya kan?”
“Darimana
kau mengetahui hal itu Mawar?”
“ ibumu
menjelaskan semua itu dengan sangat detail kepadaku.”
“Ya, aku memang
pernah mencintai Randy, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah bisa melupakan dia.”
“Kenapa kau
tak mengatakannya dulu Mel. Dulu saat aku belum pindah dari kampusmu. Mungkin
jika kau mengatakannya aku sudah jadi pacarmu sekarang.”Jawab Randy
“Aw, hey kau
cemburu ya?”Kata Randy saat aku mencubit dia.
“Bukan, aku
hanya ingin mengatakan bahwa ini bukan saatnya bercanda, kami sedang bicara
serius tahu.”Kataku pada Randy sambil mencubit perutnya satu kali lagi. Sontak
teriakannya itu keras sekali dan membuat semua orang menjadi tertawa,tak
terkecuali Melati.
Akhirnya
setelah beberapa bulan Melati bertahan, pada hari jum’at pukul 12.00 am Melati
menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tempat dia dirawat. Semua orang
Nampak muung dengan kepergian Melati. Aku juga tak menyangka umur Melati begitu
sangat pendek.
Aku akan selalu mengenangmu dihatiku. Dan akuu yakin
kau selalu ada disampingku meski aku tak dapat melihatmu lagi kawan. Terlalu
banyak kenangan yang kulalui bersamamu. Saat kuingat hal itu, aku yakin kau
juga tak pernah melupakannya. Doaku selalu menyertaimu. Aku
pasti akan datang menyusulmu………

