Rabu, 10 Juli 2013

cerpen sahabat


MAWAR DAN MELATI
Aku dan Melati sudah lama berkawan. Sejak kecil kami selalu bersama, mungkin karena jarak rumah kami yang dekat, dan mungkin juga karena umur kami yang sama. Namun kami mempunyai sipat yang sangat bertolak belakang, Melati mempunyai sipat yang sangat lembut seperti bidadari, sedangkan aku mempunyai sipat seperti laki-laki, yaitu keras dan suka bertualang. Namun meski begitu kami sangat cocok dan selalu saling mengisi satu sama lain didalam suka dan duka.
Kami tinggal di sebuah desa yang sangat asri dan indah, sehingga banyak orang kota yang membuat villa di daerah kami. Mereka singgah di villa mereka untuk beristirahat maupun untuk berlibur di daerah kami, sehingga bila saat libur sekolah tiba banyak sekali orang kota di desa.
Aku dan Melati bersekolah di SMA yang alamatnya tidak akan aku ceritakan. Kami selalu berangkat bersama dan pulangpun selalu bersama-sama.
“Mawar, cepat sedikilah. Nanti kita kesiangan ke sekolah tahu.”Kata Melati kepadaku pada suatu hari.
“Ya, aku tahu Melati. Aku akan segera siap-siap.”Jawabku dengan santai.
 Aku memang selalu santai untuk berangkat ke sekolah meski waktu sudah siang dan kadang kami selalu terlambat ke sekolah. Namun aku tak tahu kenapa meski aku selalu membuat Melati kesiangan tapi dia selalu menungguku setiap pagi didepan kamarku. Dan seperti yang sudah dikatakan oleh Melati, kami pun terlambat masuk sekolah. Dan seperti biasa kami pun dihukum memebersihkan WC.
“Tuh kan, sudah kubilang pasti kesiangan, tapi kenapa kamu tuh koq susah kalau dibilangin sih.”Kata Melati kesal.
“Iya deh maafin aku. Aku kan gak sengaja. Tapi biasanya kan juga seperti ini.”Kataku mengelak.
“Iya, iya terserah kamu deh. Aku jengkel kalau sudah berdebat sama kamu.”
“Hahhh,,, cape banget.”Kataku saat kami sudah berada di kelas.
“Ya iyalah pasti. Kalian pasti dihukum karena kesiangan lagi kan.”Kata Amel dengan suara mengejek.
“Diem lu ah. Gue lagi pusing.”Kataku kasar pada Amel.
“Aaahhh da…..”Kata Amel terputus karena dipotong oleh Melati
“Sudah, sudah jangan berdebat dong, sebentar lagi pelajaran dimulai.”Kata Melati melerai.







 



Teng,, teng,, teng
“Achhchchchch, akhirnya pulang juga.”Kata Randy
“Ah kamu Ran, kamu kan di sekolah juga bukannya belajar, tapi malah molor aja kerjaan lu.”Kataku becanda.
“Eeeehh, meski aku suka tidur tapi aku mendengar apa yang guru terangkan tadi tahu.”
“Iya deh iya terserah kamu aja hahahahaha”
“Eh Mawar, sebentar lagi kan UN dimulai, gimana kalau kita belajar bareng yuk.”Kata Melati, saat kami sudah menuju rumah.
“Ayo, ayo aja kalau begitu mah.”Kataku sambil berlari meninggalkan Melati saat tiba di jalan yang suka membuat Melati takut.
“Hey, Mawar jangan tinggalin aku dong.”Kata Melati sambil berlari ketakutan.
Tiba-tiba,
“Awwww awww, Mawar tolong aku.”Kata Melati berteriak kesakitan saat dia terperosok pada sebuah lubang yang cukup dalam.
Sontak aku langsung kaget dan berlari kea rah Melati yang kesakitan.
“Mel, kamu gak papa?”Kataku kaget melihat darah dimana-mana.
“Gak papa gimana? Ini kakiku sakit banget tahu.”
“Oke, kalau begitu aku gendong kamu ke puskesmas ya Mel.”
Akhirnya, aku dengan perasaan kaget membawa Melati dipunggungku ke puskesmas yang tidak jauh dari tempat kejadian.
“Mbak, Melati gak papa kan?”Tanyaku pada petugas puskesmas.
“Enggak papa koq, cuma Melati gak akan bisa berjalan selama beberapa hari saja.”
“Oh terimakasih ya mbak.”Kataku sambil berjalan perlahan pada ranjang Melati.
“Mel? Maafin aku ya, gara-gara aku kamu jadi begini.”
“Iya gak apa-apa koq Mawar. Aku gak kenapa-napa koq. Kamu jangan khawatir gitu dong.”
“Huhhh siapa juga yang khawatir.”Kataku sambil manyun.
“Itu, liat kamu nampak khawatir banget.”
“Udahlah jangan menggodaku begitu. Ayo kita pulang.”Kataku sambil berlalu.
“Hey Mel. Gimana aku pulangnya? Aku kan gak bisa jalan.”
“oh iya, aku lupa hahahhaha. Sini aku gendong tuan putri.”
Nah itulah kisah SMA ku bersama Melati. Kini kami sudah besar dan kami sekarang berbeda kampus. Aku berada di Universitas di Bandung, dan Melati berada di Universitas Malang. Kami berkomunikasi hanya lewat surat saja, karena Melati tak mempunyai handphone. Karena menurutnya, handphone itu buat apa, hanya bikin kita lupa diri aja.
Namun, setelah beberapa bulan ini Melati tak pernah lagi mengirim surat padaku, meski aku sudah beberapa kali mengirim surat padanya, dan akhirnya aku menyerah. Aku tak pernah lagi mengirim surat padanya, aku hanya menunggu surat darinya.
Akhirnya tibalah masa wisudaku. Aku akhirnya lulus sebagai S1 dan aku langsung menjadi dosen di UPI. Aku senang sekali dan aku tak tahan ingin berjumpa dengan Melati. Aku pulang ke kampong halamanku dengan gembira. Dan aku tak menyangka Melati juga sudah menjadi dokter spesialis mata di salahsatu Rumah Sakit di Bandung yang dekat dengan UPI tempat aku bekerja.
Aku langsung mengunjungi rumah Melati, dan berjumpa dengan Melati.
“Hey Mel! Selamat ya kamu udah jadi dokter.”Kataku sambil menyodorkan tanganku untuk berjabat tangan dengan Melati.
“Makasih.”Kata Melati dengan nada suara tak suka.
“Eh gimana kabar kamu Mel? Ceritain dong kisah kamu di kampus. Kamu kan udah lama gak cerita sama aku.”Kataku dengan semangat membara.
“Kamu gak usah tahu lah.”
“Ya udah kalau kamu gak mau ngasih tahu mah. Aku nyerah deh.”
Setelah beberapa lama tanpa ada suara, akhirnya aku mengerti. Melati tak seperti yang dulu lagi, dia sekarang seperti yang benci sama aku. Aku tak tahu mengapa dia berubah 180 derajat kepadaku.
Semalaman aku berrpikir ddan tak bisa tidur dengan sikap Melati kepadaku tadi sore. Aku masih tak mengerti kenapa dia bisa begitu.
Pagi-pagi sekali aku sudah dikejutkan dengan kedatangan Randy pacarku.
“Hey Mawar, selamat pagi!”Teriaknya saat aku sedang duduk manis diruang tamu membaca buku novel kesukaanku.
“Hey Ran, koq kamu kesini sih?”
“Aku dan keluargaku sedang berlibur disini. Jadi kusempatkan mengunjungimu.”
“Oh ya? Jadi kamu bakalan lama dong disini?”
“Iya lah. Aku disini selama mungkin 2 bulan. Kami semua mengambil cuti dari perusahaan ayahku.”
“Oh ya? Aku juga libur selama 2 bulan loh. Jadi kita bisa menghabiskan waktu disini sama-sama dong.”
“Sipp, bagus deh.”
“Oh ya, aku kenalkan pada sahabatku dulu yuk.”
“Ayo.”
“Mel, mel? Ayo sini, kukenalkan kau pada seseorang.”Teriakku pada Melati, saat kulihat dia sedang duduk dipekarangan rumahnya.
“Siapa?”Katanya tanpa memandang kearahku.
“Nih Randy, ini pacarku yang dulu aku sering membicarakannya padamu.”
“Ya, aku mengenalnya jauh sebelum kau mengenal dia.”
“Benarkah? Bagaimana kau mengenalnya sebelum aku?”
“Ya, karena dia adalah teman kuliahku dulu sebelum aku pindah ke universitasmu, Mawar.”Kata Randy memotong pembicaraan kami.
“Oh kukira kalian belum saling kenal. Bagus deh kalau kalian sudah saling mengenal. Hahahaha”Kataku sambil tersenyum bahagia.
“Benarkah?”Kata Melati sambil melangkah pergi meninggalkan kami berdua. Kami hanya bisa saling memandang saja tanpa mengetahui kenapa dia jadi begitu.
“Kenapa dia?”Kata Randy heran
“Aku gak tahu dia sejak kemarin tak mau bicara denganku. Mungkin dia sedang marah padaku.”
“Oh, ya sudahlah kalau begitu. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri.”


Aku sangat tidak mengerti mengapa dia menjadi berubah sangat dingin kepadaku. Aku tak tahu mengapa. Namun tiba-tiba pada suatu hari Melati masuk Rumah Sakit. Dokter bilang penyakit Melati sudah parah, dia terkena leukemia yang tak mungkin bisa disembuhkan kembali.
 “Ya ampun Mel, kenapa kamu tak pernah bicara tentang hal ini kepadaku? Setidaknya aku ini tahu, karena aku adalah teman baikmu dari kecil. Teman macam apa aku ini. Temannya sakit aku tak mengetahui hal itu.”Jawabku sambil menangis didepan Melati yang tidak sadarkan diri.
“Sudahlah Mawar, jangan terlalu disesali. Ini adalah kehendak Tuhan.” Jawab ibunya Melati.
“Tante juga, kenapa ibu tidak pernah memberitahukannya padaku?”
“Tante tidak memberitahukannya padamu, karena Melati tak mau kau bersedih hanya karena dia.”Kata ibunya Melati menjelaskan.
Ibunya Melati menjelaskan begitu detail tentang penyakitnya Melati dan sangkut pautnya dia menjadi bersikap dingin terhadapku.
Kini aku mengerti, selama ini dia bersikap dingin dan tak mau bicara kepadaku, itu karena dia ingin membuat kenangan buruk untukku tentang dia, sehingga aku tidak terlalu bersedih atas kematiaannya dan dia ingin menyembunyikan semua kesedihan itu untuk dia seorang. Melati tidak mau jika aku juga ikut bersedih hanya gara-gara dia.
Aku terus saja menunggu Melati sadarkan diri. Aku ingin berbicara padanya.
Setelah beberapa hari Melati tak sadarkan diri, tiba-tiba mata Melati terbuka, dan dia memanggil namaku berulang-ulang.
“Mawar, mawar, mawar?”
“Ya aku disini Mel.”Jawabku sambil menggosok-gosokkan mata karena baru bangun tidur.
“Tante, paman, Randy, lihat! Melati sudah sadar.”Teriakku bahagia.
“Mawar, sebenarnya aku sudah terserang penyakit ini sedari kecil dahulu. Saat itu, kau bertanya padaku kenapa aku selalu mimisan kalau kecapean. Itu adalah awal aku menderita sakit ini Mawar. Aku merahasiakannya padamu, aku,,, aku,,, aku,,hiks hiks”
“Sudahlah aku sudah mengerti koq, ibumu sudah menjelaskannya padaku, jadi kau tak usah menghabiskan tenagamu untuk menjelaskannya. Tapi, ada satu hal lagi yang membuat aku kecewa”
“Apa itu?”
“Kenapa kau tak pernah menceritakan padaku bahwa kau pernah mencintai Randy, dan mungkin sampai sekarang kau masih mencintainya. Iya kan?”
“Darimana kau mengetahui hal itu Mawar?”
“ ibumu menjelaskan semua itu dengan sangat detail kepadaku.”
“Ya, aku memang pernah mencintai Randy, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah bisa melupakan dia.”
“Kenapa kau tak mengatakannya dulu Mel. Dulu saat aku belum pindah dari kampusmu. Mungkin jika kau mengatakannya aku sudah jadi pacarmu sekarang.”Jawab Randy
“Aw, hey kau cemburu ya?”Kata Randy saat aku mencubit dia.
“Bukan, aku hanya ingin mengatakan bahwa ini bukan saatnya bercanda, kami sedang bicara serius tahu.”Kataku pada Randy sambil mencubit perutnya satu kali lagi. Sontak teriakannya itu keras sekali dan membuat semua orang menjadi tertawa,tak terkecuali Melati.
Akhirnya setelah beberapa bulan Melati bertahan, pada hari jum’at pukul 12.00 am Melati menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tempat dia dirawat. Semua orang Nampak muung dengan kepergian Melati. Aku juga tak menyangka umur Melati begitu sangat pendek.
Aku akan selalu mengenangmu dihatiku. Dan akuu yakin kau selalu ada disampingku meski aku tak dapat melihatmu lagi kawan. Terlalu banyak kenangan yang kulalui bersamamu. Saat kuingat hal itu, aku yakin kau juga tak pernah melupakannya. Doaku selalu menyertaimu.   Aku pasti akan datang menyusulmu………