Inalillahi waina ilaihi rojiun, telah
berpulang ke rahmatullah Meicha Andania Dewi bin Ahamad Ramdhana. Beliau akan
dimakamkan di TPU Bandung. Bagi yang ingin melayat datanglah ke rumah ayahanda
Meicha.
“Bunda,
kenapa kak Meicha diem mulu? Kenapa kak Meicha pucet sama dingin banget mah?”
Tanya Meisya, adik dari Meicha sendiri.
Bunda
tidak menjawab pertanyaan Meisya sedikitpun. Bunda masih shock dengan kepergian
Meicha yang secara tiba-tiba. Meicha meninggal pada saat pagi hari sebelum dia
berangkat menemui Elgi. Tiba-tiba dia terjatuh di tangga, entah mengapa Meicha
tiba-tiba terjatuh. Saat itu Bunda berteriak keras sekali, karena Meicha tersungkur
dengan penuh darah dan sudah tidak ada denyut nadinya sedikitpun.
Dengan
penuh isak tangis dan duka yang mendalam, akhirnya jasad Meicha terkubur dengan
tanah merah dan bunga-bunga yang bertaburan. Elgi sang kekasih Meicha begitu
sangat terpukul dan tak sanggup melihat jasad Meicha. Ia tak menyangka akan
ditinggal pergi selamanya oleh sang kekasih dengan tiba-tiba tanpa isyarat
sedikitpun.
“Nak,
bunda disini selalu mendo’akanmu.” Kata Bunda dengan penuh isak meninggalkan
makam Meicha yang masih basah.
“Sayang,
ayah pulang dulu ya. Kasihan ibumu.” Kata ayah.
“Aku
selalu mencintaimu, hati ini akan selalu menyimpan kenangan yang indah
bersamamu. Dahhh bawel.” Kata Elgi mencoba tegar meski hatinya penuh luka
dalam.
Hati
Elgi masih tak menyangka dia telah pergi, serasa bermimpi. Tak kuat rasanya
ditinggal pergi oleh orang yang kita sayang, apalagi orang yang sudah memberi
warna yang indah di dalam hidup kita.
Bunda
belum kuat untuk membereskan barang-barang Meicha yang masih berada di kamar
Meicha. Akhirnya yang membereskan adalah Elgi. Saat Elgi akan membereskan kamar
kekasihnya, dia tak menyangka ternyata barang-barang Meicha sudah tertata rapi
seperti yang sudah dibereskan. Elgi bingung, karena menurut pengakuan, kamar
Meicha belum ada membereskan. Namun ternyata ada sebuah buku kecil dengan manis
tersimpan di atas meja belajar Meicha. Hampir saja Elgi melempar buku tersebut
ke dalam kardus, namun saat akan melemparnya, Elgi tak sengaja membaca sampul
buku tersebut yang berjudul “Diary hidupku”.
Dipandanginya
buku kecil itu dengan penuh tanda tanya. Haruskah aku membacanya? Batin Elgi
terus dipenuhi pertanyaan. Akhirnya dengan hati penuh khawatir, Elgi membuka
buku diary itu.
Saat
tiba di halaman pertama, sambil membayangkan apa yang Meicha tulis di diarynya
Elgi membaca dengan seksama.
Tanggal
22 July 2010, hari ini hari pertama aku sekolah di SMA,
Saat
itu, dengan penuh semangat yang membara Meicha pergi ke sekolah untuk mengikuti
MOPD yang diadakan oleh sekolahnya meski sebenarnya Meicha baru saja sembuh
dari sakit yang dideritanya. Bunda Meicha sudah melarang Meicha untuk tidak
terlalu aktip, karena sang bunda sangat khawatir dengan keadaan Meicha.
“Waaahhhh
luas banget sekolahnya. Indah banget.” Batin Meicha berkata.
“Hey,
dek ayo masuk kelas, udah masuk tuh. Ntar telat mengikuti MOPD lohhh.” Kata
seorang kakak pengurus OSIS.
“Iya
kak.” Kata meicha tanpa melihat siapa yang menyuruhnya.
“Wahh
dia cantik banget ya Gi.” Kata seorang teman dari kakak pengurus OSIS yang tadi
menyuruh Meicha.
“Hahahahaha,
masa sih?”
“Iya lu
liat aja, wajahnya bersih seperti salju, pipinya merah merona bagaikan apel
yang ranum. Hmmm manis banget ya Elgi.”
“Iya,
terserah saja. Dasar tukang puitis.” Kata orang yang ternyata dialah Elgi.
Hari
pertama MOPD terlewati dengan penuh senyum indah Meicha. Sepanjang hari Meicha
tak henti-hentinya tersenyum. Dia tak menyangka, ternyata MOPD itu menyenangkan
sekali, karena dulu saat MOPD di SMP Meicha tidak mengikutinya.
Tanpa
Meicha sadari, ternyata ada seseorang yang selalu memperhatikan gerak geriknya.
Dia selalu memberikan semangat kepada Meicha. Siapapun yang ingin menyakiti
Meicha, dia selalu ada untuk membela Meicha.
“Hey
dek, kamu dulu sekolah dimana?” kata Elgi mendekati Meicha.
“Emmmm
di SMP Pasundan 5 kak. Emang kenapa kak?” kata Meicha polos.
“ahhh
enggak. Kakak Cuma nanya doing koq. Ehh dulu MOPD di SMP gimana?”
“Emmm
dulu aku tidak mengikuti MOPD, karena aku lagi dirawat di rumah sakit.”
“Ohhh,
baru sekarang dong kamu mengikuti MOPD. Semoga kamu suka ya MOPD disini.” Kata
Elgi dengan penuh senyum sambil pergi.
17
oktober 2011
Hari
demi hari dilewati Meicha dengan indah, karena selalu diperindah dengan
kejutan-kejutan yang diberikan Elgi. Meicha selalu merasa ada yang menjadi
seseorang yang selalu ada disampingnya.
Namun,
suatu hari Elgi tidak muncul-muncul dihadapan Meicha. Meicha sangat khawatir
dengan keadaan Elgi. Dia takut terjadi apa-apa dengan Elgi. Meicha terus
menunggu kedatangan Elgi. Biasanya Elgi selalu datang saat pagi hari dan saat
istirahat kedua, namun hari ini kenapa dia tak datang?
Pada
saat akan pulang, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menarik tangan Meicha
dengan sangat kuat. Terpaksa dengan berlari Meicha mengikuti orang yang telah
menarik tangannya. Meicha tidak tahu siapa yang telah menarik tangannya, karena
mukanya tertutup oleh topeng.
Dengan
perasaan takut, Meicha duduk di kursi taman belakang sekolahnya. Menunggu orang yang tadi menarik tangannya. Tiba-tiba,
“Happy
birthday Meicha, selamat ulangtahun Meicha.” Kata Elgi sambil memegang kue
brownis dengan lilin menyala diatasnya.
“Hahhhh???
Kau ingat hari ulangtahunku? Kukira kau lupa.”
20
Oktober 2011
Setelah
kejadian itu, Elgi tidak pernah muncul dihadapan Meicha lagi. Meicha sangat
merasa kehilangan atas itu. Dengan penuh keberanian, Meicha datang ke kelas
Elgi.
“Kak
Gilang, kakak tahu gak Elgi kemana?” tanya Meicha kepada teman Elgi.
“Hah,
Elgi? Oh kamu tidak tahu ya? Elgi sedang keluar negeri menjenguk kakeknya.”
“ohhh.
Makasih ya kak.”
“Ya.”
Dengan
langkah gontai, Meicha melangkah pergi dari kelas Elgi. Kerinduan yang Meicha
rasakan membuat Meicha menjadi sangat pendiam. Meicha sangat merindukan Elgi.
Meicha tidak pernah merasakan rasa sakit seperti rasa sakit yang dialaminya
saat ini. Didalam kesendirian, Meicha selalu menangis, meicha ingin bertemu
dengan Elgi.
25
Februari 2012
Pada
suatu hari, tiba-tiba, di depan pintu rumah Meicha berdiri seseorang. Ternyata
dia adalah Elgi. Dengan berlari, Meicha menghambur memeluk Elgi dengan sangat
erat sambil menangis.
“Kamu
kemana saja Gi? Aku kangen kamu. Aku ingin bersamamu, aku mencintaimu Gi. Aku
ingin kamu selalu ada disisiku. Aku tak ingin kau pergi dari sisiku.”
Namun
Elgi tidak menjawab hanya tersenyum menatap wajah Meicha yang sangat sedih.
Ternyata dia bukan Elgi, tetapi itu hanya khayalan meicha saja. Karena kejadian
itu, Meicha sangat kecewa, dan jatuh sakit. Setiap hari Meicha selalu menunggu
kedatangan Elgi dengan penuh harap. Keadaan itu membuat penyakit Meicha kambuh
lagi. Meicha mulai merasakan rasa sakit yang dulu pernah hilang kini datang
kembali.
(Meicha, kenapa kau tak pernah bercerita
tentang hal ini?)
Meicha
merasa inilah detik terakhirnya hidup. Namun demi untuk bertemu Elgi, Meicha
berusaha bangkit dari sakitnya. Sehingga, Meicha bisa pulang dari rumah sakit.
Pada
saat akan memasuki rumah Meicha, dia melihat Elgi sudah menunggu didepan pintu
dengan penuh senyum menawan dan menenteng kado ditangannya.
Namun, untuk kali ini meicha tidak langsung
memeluk Elgi. Dia takut ini hanya khayalannya lagi. Dengan hati penuh
pertanyaan, Meicha mendekati Elgi. Setelah memastikan bahwa ini bukan khayalan,
Meicha menampar Elgi dengan keras.
“Kamu
kemana aja? Kenapa kamu tak pernah memberi kabar kepadaku? Kamu tahu tidak, aku
disini mengkhawatirkanmu, aku takut kau pergi. Aku tak ingin…”
“Sttttttt,
udah yang penting kan aku udah ada dihadapanmu, jadi jangan sedih lagi ya. Aku
juga menyayangimu. Bahkan aku mencintaimu. Maukah kau menjadi orang yang
special dihidupku?” kata Elgi mengejutkan Meicha.
“Aku
aku aku….”
“Ya
sudah jika kau butuh waktu tidak apa-apa. Kau boleh berpikir dahulu, tapi
jangan lama-lama ya. Aku gak suka menunggu.” Katanya sambil memberikan sesuatu
pada Meicha dan langsung berjalan menjauh dari Meicha yang masih bengong.
Namun,
saat Elgi sudah jauh meninggalkan Meicha, tiba-tiba Meicha berlari memeluk Elgi
dengan erat tanpa peduli apapun.
“Aku
mau koq jadi pacar kamu.” Kata Meicha dengan nafas penuh sesak.
(kenangan manis itu selalu ada didalam
hatiku.) saat Elgi berhenti menarik nafas sebelum membaca kembali.
Sejak
saat itu, Elgi dan Meicha resmi menjadi pasangan kekasih. Namun ternyata Meicha
menyembunyikan sesuatu dari Elgi. Jauh didalam lubuk hati Meicha, Meicha sangat
merasa bersalah atas apa yang telah disembunyikannya, namun itu adalah yang
terbaik menurutnya.
5 Juli
2012
Suatu pagi yang mendung, Meicha datang
terburu-buru ke taman. Disana sudah menunggu Elgi dengan penuh kekecewaan.
“Kenapa
kau terlambat?” kata Elgi dengan wajah marah, karena dia sudah menunggu Meicha
3 jam lamanya.
“Maafkan
aku. Aku…”
“Sudahlah
aku tak ingin mendengar penjelasanmu.” Kata Elgi sambil berlalu.
Tak
beberapa lama setelah Elgi pergi, turunlah hujan lebat yang membasahi tubuh
Meicha. Meicha tetap merunduk ditengah-tengah taman yang sepi sendirian tanpa
seorangpun yang menemaninya. Namun, tiba-tiba tidak terasa lagi hujan yang
membasahi tubuh Meicha, ternyata Elgi datang kembali sambil membawa payung.
Elgi datang kembali dan melindungi Meicha dari hujan yang sangat deras.
“Terimakasih
Elgi. Kau datang kembali untukku.”
“Sama-sama
sayangku bawel. Aku akan selalu melindungimu.”
“Apakah
kau sudah tidak memarahiku?”
“Tentu
saja tidak.”
(sebenarnya,
aku terlambat datang adalah karena aku pergi cek up ke rumah sakit. Aku tidak
menyangka ternyata sangat lama.) jelas Meicha
di dalam buku diarynya.
“Ya
ampun, mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Mungkin jika kau jujur
kepadaku aku tak akan marah. Tapi, sebenarnya kamu memiliki penyakit apa?” kata
Elgi mengomentari.
Elgi
tidak merasa ternyata dia sudah berada dihalaman terakhir. Dihalaman terakhir
terdapat catatan khusus, ditulis dengan tinta warna merah.
17 oktober 2012
Aku sangat mencintaimu, Elgi. Maafkan aku telah membohongimu tentang
penyakitku. Aku sangat merasa bersalah akan hal itu. Aku mengidap kanker otak stadium akhir Gi.
Tahun ini kau lulus dengan nilai yang sempurna,
tapi saat itulah saat terakhir kita bersama. Kau akan pergi ke London dan aku
tetap disini melanjutkan sekolahku. Sebenarnya aku ingin selalu berada
didekatmu.
Apakah bila tiba saatnya aku pergi meninggalkan
dunia ini aku masih bisa melihatmu dan menemanimu sampai ajal menjemputmu?
Aku akan selalu mencintaimu meski ajal ini
menjemputku dan pergi membawa nyawaku pergi tanpa bisa kembali lagi.
Aku rasa umurku sudah tak lama lagi. Mungkin hanya
kata “AKU CINTA KAMU SELAMANYA WALAU NYAWAKU SUDAH
PERGI JAUH DARI SISIMU, NAMUN AKU AKAN SELALU HIDUP
DI HATIMU DENGAN KASIH SAYANGKU UNTUKMU. ABADIKANLAH CINTA KITA DIDALAM KENANGAN KITA……”.
“MAAFKAN AKU SAYANG………”
“Aku juga mencintaimu Meicha. Aku akan selalu
mencintaimu…”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh Elgi
lemas dan akhirnya Elgi dilarikan ke rumah sakit.
Setelah beberapa hari koma, akhirnya nyawa Elgi
sudah tak tertolong dan akhirnya Elgi menghembuskan nafas terakhirnya dengan
mendekap buku harian Meicha dengan penuh senyum.
Tenyata Elgi mengidap penyakit jantung. Pada saat
ke luar negeri, dia bukan untuk menjenguk kakeknya tapi untuk operasi
jantungnya yang sudah parah. Dan dia juga sudah membuat catatan kecil didalam boneka yang akan dihadiahkannya pada hari dimana
Meicha meninggal, karena hari itulah hari dimana Meicha berulangtahun yang ke
17.
Memang,
cinta itu kadang tak harus terukir abadi
di pelaminan. Tapi kadang cinta itu terukir abadi didalam kematian yang
akan menimpa siapa saja.
Jangan
pernah sia-siakan rasa kasih sayang dan cinta dari seseorang, karena kita hidup
di dunia ini dengan penuh kasih sayang Tuhan dan orang-orang disekitar kita.
-Chindy Alpharesa-

