Minggu, 18 Agustus 2013

Cinta Itu Indah


Inalillahi waina ilaihi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah Meicha Andania Dewi bin Ahamad Ramdhana. Beliau akan dimakamkan di TPU Bandung. Bagi yang ingin melayat datanglah ke rumah ayahanda Meicha.
“Bunda, kenapa kak Meicha diem mulu? Kenapa kak Meicha pucet sama dingin banget mah?” Tanya Meisya, adik dari Meicha sendiri.
Bunda tidak menjawab pertanyaan Meisya sedikitpun. Bunda masih shock dengan kepergian Meicha yang secara tiba-tiba. Meicha meninggal pada saat pagi hari sebelum dia berangkat menemui Elgi. Tiba-tiba dia terjatuh di tangga, entah mengapa Meicha tiba-tiba terjatuh. Saat itu Bunda berteriak keras sekali, karena Meicha tersungkur dengan penuh darah dan sudah tidak ada denyut nadinya sedikitpun.
Dengan penuh isak tangis dan duka yang mendalam, akhirnya jasad Meicha terkubur dengan tanah merah dan bunga-bunga yang bertaburan. Elgi sang kekasih Meicha begitu sangat terpukul dan tak sanggup melihat jasad Meicha. Ia tak menyangka akan ditinggal pergi selamanya oleh sang kekasih dengan tiba-tiba tanpa isyarat sedikitpun.
“Nak, bunda disini selalu mendo’akanmu.” Kata Bunda dengan penuh isak meninggalkan makam Meicha yang masih basah.
“Sayang, ayah pulang dulu ya. Kasihan ibumu.” Kata ayah.
“Aku selalu mencintaimu, hati ini akan selalu menyimpan kenangan yang indah bersamamu. Dahhh bawel.” Kata Elgi mencoba tegar meski hatinya penuh luka dalam.
Hati Elgi masih tak menyangka dia telah pergi, serasa bermimpi. Tak kuat rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kita sayang, apalagi orang yang sudah memberi warna yang indah di dalam hidup kita.
Bunda belum kuat untuk membereskan barang-barang Meicha yang masih berada di kamar Meicha. Akhirnya yang membereskan adalah Elgi. Saat Elgi akan membereskan kamar kekasihnya, dia tak menyangka ternyata barang-barang Meicha sudah tertata rapi seperti yang sudah dibereskan. Elgi bingung, karena menurut pengakuan, kamar Meicha belum ada membereskan. Namun ternyata ada sebuah buku kecil dengan manis tersimpan di atas meja belajar Meicha. Hampir saja Elgi melempar buku tersebut ke dalam kardus, namun saat akan melemparnya, Elgi tak sengaja membaca sampul buku tersebut yang berjudul “Diary hidupku”.
Dipandanginya buku kecil itu dengan penuh tanda tanya. Haruskah aku membacanya? Batin Elgi terus dipenuhi pertanyaan. Akhirnya dengan hati penuh khawatir, Elgi membuka buku diary itu.
Saat tiba di halaman pertama, sambil membayangkan apa yang Meicha tulis di diarynya Elgi membaca dengan seksama.
Tanggal 22 July 2010, hari ini hari pertama aku sekolah di SMA,
Saat itu, dengan penuh semangat yang membara Meicha pergi ke sekolah untuk mengikuti MOPD yang diadakan oleh sekolahnya meski sebenarnya Meicha baru saja sembuh dari sakit yang dideritanya. Bunda Meicha sudah melarang Meicha untuk tidak terlalu aktip, karena sang bunda sangat khawatir dengan keadaan Meicha.
“Waaahhhh luas banget sekolahnya. Indah banget.” Batin Meicha berkata.
“Hey, dek ayo masuk kelas, udah masuk tuh. Ntar telat mengikuti MOPD lohhh.” Kata seorang kakak pengurus OSIS.
“Iya kak.” Kata meicha tanpa melihat siapa yang menyuruhnya.
“Wahh dia cantik banget ya Gi.” Kata seorang teman dari kakak pengurus OSIS yang tadi menyuruh Meicha.
“Hahahahaha, masa sih?”
“Iya lu liat aja, wajahnya bersih seperti salju, pipinya merah merona bagaikan apel yang ranum. Hmmm manis banget ya Elgi.”
“Iya, terserah saja. Dasar tukang puitis.” Kata orang yang ternyata dialah Elgi.
Hari pertama MOPD terlewati dengan penuh senyum indah Meicha. Sepanjang hari Meicha tak henti-hentinya tersenyum. Dia tak menyangka, ternyata MOPD itu menyenangkan sekali, karena dulu saat MOPD di SMP Meicha tidak mengikutinya.
Tanpa Meicha sadari, ternyata ada seseorang yang selalu memperhatikan gerak geriknya. Dia selalu memberikan semangat kepada Meicha. Siapapun yang ingin menyakiti Meicha, dia selalu ada untuk membela Meicha.
“Hey dek, kamu dulu sekolah dimana?” kata Elgi mendekati Meicha.
“Emmmm di SMP Pasundan 5 kak. Emang kenapa kak?” kata Meicha polos.
“ahhh enggak. Kakak Cuma nanya doing koq. Ehh dulu MOPD di SMP gimana?”
“Emmm dulu aku tidak mengikuti MOPD, karena aku lagi dirawat di rumah sakit.”
“Ohhh, baru sekarang dong kamu mengikuti MOPD. Semoga kamu suka ya MOPD disini.” Kata Elgi dengan penuh senyum sambil pergi.
17 oktober 2011
Hari demi hari dilewati Meicha dengan indah, karena selalu diperindah dengan kejutan-kejutan yang diberikan Elgi. Meicha selalu merasa ada yang menjadi seseorang yang selalu ada disampingnya.
Namun, suatu hari Elgi tidak muncul-muncul dihadapan Meicha. Meicha sangat khawatir dengan keadaan Elgi. Dia takut terjadi apa-apa dengan Elgi. Meicha terus menunggu kedatangan Elgi. Biasanya Elgi selalu datang saat pagi hari dan saat istirahat kedua, namun hari ini kenapa dia tak datang?
Pada saat akan pulang, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menarik tangan Meicha dengan sangat kuat. Terpaksa dengan berlari Meicha mengikuti orang yang telah menarik tangannya. Meicha tidak tahu siapa yang telah menarik tangannya, karena mukanya tertutup oleh topeng.
Dengan perasaan takut, Meicha duduk di kursi taman belakang sekolahnya. Menunggu orang yang tadi menarik tangannya. Tiba-tiba,
“Happy birthday Meicha, selamat ulangtahun Meicha.” Kata Elgi sambil memegang kue brownis dengan lilin menyala diatasnya.
“Hahhhh??? Kau ingat hari ulangtahunku? Kukira kau lupa.”
20 Oktober 2011
Setelah kejadian itu, Elgi tidak pernah muncul dihadapan Meicha lagi. Meicha sangat merasa kehilangan atas itu. Dengan penuh keberanian, Meicha datang ke kelas Elgi.
“Kak Gilang, kakak tahu gak Elgi kemana?” tanya Meicha kepada teman Elgi.
“Hah, Elgi? Oh kamu tidak tahu ya? Elgi sedang keluar negeri menjenguk kakeknya.”
“ohhh. Makasih ya kak.”
“Ya.”
Dengan langkah gontai, Meicha melangkah pergi dari kelas Elgi. Kerinduan yang Meicha rasakan membuat Meicha menjadi sangat pendiam. Meicha sangat merindukan Elgi. Meicha tidak pernah merasakan rasa sakit seperti rasa sakit yang dialaminya saat ini. Didalam kesendirian, Meicha selalu menangis, meicha ingin bertemu dengan Elgi.
25 Februari 2012
Pada suatu hari, tiba-tiba, di depan pintu rumah Meicha berdiri seseorang. Ternyata dia adalah Elgi. Dengan berlari, Meicha menghambur memeluk Elgi dengan sangat erat sambil menangis.
“Kamu kemana saja Gi? Aku kangen kamu. Aku ingin bersamamu, aku mencintaimu Gi. Aku ingin kamu selalu ada disisiku. Aku tak ingin kau pergi dari sisiku.”
Namun Elgi tidak menjawab hanya tersenyum menatap wajah Meicha yang sangat sedih. Ternyata dia bukan Elgi, tetapi itu hanya khayalan meicha saja. Karena kejadian itu, Meicha sangat kecewa, dan jatuh sakit. Setiap hari Meicha selalu menunggu kedatangan Elgi dengan penuh harap. Keadaan itu membuat penyakit Meicha kambuh lagi. Meicha mulai merasakan rasa sakit yang dulu pernah hilang kini datang kembali.
(Meicha, kenapa kau tak pernah bercerita tentang hal ini?)
Meicha merasa inilah detik terakhirnya hidup. Namun demi untuk bertemu Elgi, Meicha berusaha bangkit dari sakitnya. Sehingga, Meicha bisa pulang dari rumah sakit.
Pada saat akan memasuki rumah Meicha, dia melihat Elgi sudah menunggu didepan pintu dengan penuh senyum menawan dan menenteng kado ditangannya.
 Namun, untuk kali ini meicha tidak langsung memeluk Elgi. Dia takut ini hanya khayalannya lagi. Dengan hati penuh pertanyaan, Meicha mendekati Elgi. Setelah memastikan bahwa ini bukan khayalan, Meicha menampar Elgi dengan keras.
“Kamu kemana aja? Kenapa kamu tak pernah memberi kabar kepadaku? Kamu tahu tidak, aku disini mengkhawatirkanmu, aku takut kau pergi. Aku tak ingin…”
“Sttttttt, udah yang penting kan aku udah ada dihadapanmu, jadi jangan sedih lagi ya. Aku juga menyayangimu. Bahkan aku mencintaimu. Maukah kau menjadi orang yang special dihidupku?” kata Elgi mengejutkan Meicha.
“Aku aku aku….”
“Ya sudah jika kau butuh waktu tidak apa-apa. Kau boleh berpikir dahulu, tapi jangan lama-lama ya. Aku gak suka menunggu.” Katanya sambil memberikan sesuatu pada Meicha dan langsung berjalan menjauh dari Meicha yang masih bengong.
Namun, saat Elgi sudah jauh meninggalkan Meicha, tiba-tiba Meicha berlari memeluk Elgi dengan erat tanpa peduli apapun.
“Aku mau koq jadi pacar kamu.” Kata Meicha dengan nafas penuh sesak.
(kenangan manis itu selalu ada didalam hatiku.) saat Elgi berhenti menarik nafas sebelum membaca kembali.
Sejak saat itu, Elgi dan Meicha resmi menjadi pasangan kekasih. Namun ternyata Meicha menyembunyikan sesuatu dari Elgi. Jauh didalam lubuk hati Meicha, Meicha sangat merasa bersalah atas apa yang telah disembunyikannya, namun itu adalah yang terbaik menurutnya.
5 Juli 2012
 Suatu pagi yang mendung, Meicha datang terburu-buru ke taman. Disana sudah menunggu Elgi dengan penuh kekecewaan.
“Kenapa kau terlambat?” kata Elgi dengan wajah marah, karena dia sudah menunggu Meicha 3 jam lamanya.
“Maafkan aku. Aku…”
“Sudahlah aku tak ingin mendengar penjelasanmu.” Kata Elgi sambil berlalu.
Tak beberapa lama setelah Elgi pergi, turunlah hujan lebat yang membasahi tubuh Meicha. Meicha tetap merunduk ditengah-tengah taman yang sepi sendirian tanpa seorangpun yang menemaninya. Namun, tiba-tiba tidak terasa lagi hujan yang membasahi tubuh Meicha, ternyata Elgi datang kembali sambil membawa payung. Elgi datang kembali dan melindungi Meicha dari hujan yang sangat deras.
“Terimakasih Elgi. Kau datang kembali untukku.”
“Sama-sama sayangku bawel. Aku akan selalu melindungimu.”
“Apakah kau sudah tidak memarahiku?”
“Tentu saja tidak.”
(sebenarnya, aku terlambat datang adalah karena aku pergi cek up ke rumah sakit. Aku tidak menyangka ternyata sangat lama.) jelas Meicha di dalam buku diarynya.
“Ya ampun, mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Mungkin jika kau jujur kepadaku aku tak akan marah. Tapi, sebenarnya kamu memiliki penyakit apa?” kata Elgi mengomentari.
Elgi tidak merasa ternyata dia sudah berada dihalaman terakhir. Dihalaman terakhir terdapat catatan khusus, ditulis dengan tinta warna merah.
17 oktober 2012
Aku sangat mencintaimu, Elgi. Maafkan aku telah membohongimu tentang penyakitku. Aku sangat merasa bersalah akan hal itu. Aku mengidap kanker otak stadium akhir Gi.
Tahun ini kau lulus dengan nilai yang sempurna, tapi saat itulah saat terakhir kita bersama. Kau akan pergi ke London dan aku tetap disini melanjutkan sekolahku. Sebenarnya aku ingin selalu berada didekatmu.
Apakah bila tiba saatnya aku pergi meninggalkan dunia ini aku masih bisa melihatmu dan menemanimu sampai ajal menjemputmu?
Aku akan selalu mencintaimu meski ajal ini menjemputku dan pergi membawa nyawaku pergi tanpa bisa kembali lagi.
Aku rasa umurku sudah tak lama lagi. Mungkin hanya kata  AKU CINTA KAMU SELAMANYA WALAU NYAWAKU SUDAH PERGI  JAUH DARI SISIMU, NAMUN AKU AKAN SELALU HIDUP DI HATIMU DENGAN KASIH SAYANGKU UNTUKMU. ABADIKANLAH CINTA KITA DIDALAM KENANGAN KITA……”.
MAAFKAN AKU SAYANG………
“Aku juga mencintaimu Meicha. Aku akan selalu mencintaimu…”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh Elgi lemas dan akhirnya Elgi dilarikan ke rumah sakit.
Setelah beberapa hari koma, akhirnya nyawa Elgi sudah tak tertolong dan akhirnya Elgi menghembuskan nafas terakhirnya dengan mendekap buku harian Meicha dengan penuh senyum.
Tenyata Elgi mengidap penyakit jantung. Pada saat ke luar negeri, dia bukan untuk menjenguk kakeknya tapi untuk operasi jantungnya yang sudah parah. Dan dia juga sudah membuat catatan kecil didalam boneka yang akan dihadiahkannya pada hari dimana Meicha meninggal, karena hari itulah hari dimana Meicha berulangtahun yang ke 17.
Memang, cinta itu kadang tak harus terukir abadi  di pelaminan. Tapi kadang cinta itu terukir abadi didalam kematian yang akan menimpa siapa saja.
Jangan pernah sia-siakan rasa kasih sayang dan cinta dari seseorang, karena kita hidup di dunia ini dengan penuh kasih sayang Tuhan dan orang-orang disekitar kita.
-Chindy Alpharesa-

MUNGKINKAH BUKAN AKU


Khayalanku terus saja berlanjut sampai aku tak dapat berhenti untuk selalu memikirkanmu. Betapa sangat besar rasa sayangku kepadamu meski kau tak pernah membalas rasa cinta ini. Aku tak pernah marah padamu meski kau tak membalas, aku hanya ingin selalu bisa melihatmu tersenyum bahagia meski senyum itu bukanlah diperuntukan kepadaku. I love you!”
Setelah menulis kata-kata itu di dalam buku diaryku, aku tak dapat lagi menahan air mata ini meski aku berusaha menahannya sampai aku sudah tak dapat lagi mengeluarkan air mata barulah aku berhenti. Mungkin kini hanya tertinggal hati ini yang selalu meneteskan air mata tanpa bisa berhenti.
“Natasya,!!”. Terdengar suara yang mmemanggilku dari luar.
“Ya, tunggu bentaran kenapa.” Sahutku dengan wajah gugup.
Brugg, suara pintu ku tutup dengan tak kukira akan menimbulkan suara yang keras.
“Kenapa lu lama banget sih Nat? Gue udah pegel tahu nunggu lo disini. Habis ngapain sih lo didalem?”
“Sabar dong nanya nya satu-satu. Hahah .”
“Lo abis nangis ya?”
“Iye, emang kenapa?”
“Udahlah Nat, anak itu gak usah ditangisin lagi. Pasti lo bakalan dapet orang yang bisa mencintai lo koq.” Kata Mytha meyakinkan hati.
“Kalau omongan doing mah emang gampang. Ayo berangkat aja.”Kataku mengalihkan perhatian, aku tak mau membahas.
“Sipp deh.”
Lama aku terus jalan-jalan bersama dengan Mytha, aku memang suka banget jalan-jalan, meski kadang bosen juga kalau gak ada tujuan. Dari satu Mall ke Mall yang lain. Aku dan Mytha memang sedang mencari barang-barang dan makanan buat gadang pas malam minggu di kostan kami.
Sudah menjadi acara rutin, jika malam liburan tiba, kadang kami suka gadang tapi sampe jam 11.00 bagi yang gak kuat gadang, tapi kalau Mytha dia mah nyampe jam 03.00 dini hari pun dia kuat. Kalau gue mah udah tepar kali disuruh gadang nyampe jam segitu mah. Seperti malam ini, aku jam 11.30 aja udah tepar depan tv yang kami tonton ampe lupa dimatiin.
“Tiiiittt tiiiitttt tiiittttt” alarm ku berbunyi terus sampai gue udah gak kuat dengernya. Baru deh jam 07.00 baru bangundari tidur. Dengan malas gue ambil handuk masuk kamar mandi.
Baru setelah jam 08.00, gue udah seger, langsung aja gue keluar jemur pakaian.
“Ya ampunn terang banget sihh.”Kata gue sambil ngucek-ngucek mata.
Aku dan Mytha rencananya hari ini pengen beli sepatu, tapi ternyata gue malah ditinggal Mytha ng’date. Huhh dasar, kan jadi gue yang sendirian. Gue bingung harus ngapain nyampe akhirnya ada sms dari orang yang sangat aku cinta, tapi bukan pacar lohhh.
Nat, temenin gue beli kado yu…
Hahhh????? Dia ngajak gue beli kado???? Gak seperti biasanya banget, malah dia kalau di ingat-ingat gak pernah sms gue lebih dulu. Biasanya gue duluan yang sms itu juga kadang gak pernah di bales sama dia.
Ya udah ayo. Jam berapa??
Sekarang juga, gue tunggu lo di depan kostan lo. Cepet ye….
Iyee…
Sambil membalas sms itu aku berlari keluar mendapatkan dia sudah tersenyum menatapku.
“Lo cantik banget sihhh.”Kata dia menggoda.
“Masa??? Becanda mulu lo.”
“Ya udah yu capcus.”
“Emang kita mau kemana??”
“Ke tempat yang barangnya bisa gue beli lah…”
“Maksud gue yang lebih jelasnya kemana?”
“Ntar juga lo tahu. Tunggu aja. Pegangan gue mau ngebut nihh.”
Dengan hati deg-deg serrrr gue pegangan sama dia. Gimana gue gak degdegan orang baru kali ini deket banget sama dia. Rasanya tuh kayak mimpi. Dalam hati aku berkata mimpi apa gue semalem????
“Hey, ayo turun! Udah nyampe tahu.”
“Iya gue tahu koq.”
Ternyata dia ngajak gue ke Mall…….
TERNYATA KE MALLL, Sengaja diperjelas haha
“Ayo masuk.”Katanya sambil menggenggam erat tanganku. Hangat terasa,begitu sangat membuat hati ini tenang.
Ketika gue lagi milih-milih barang buat kado pesenan dia, koq gue serasa dia tuh ngeliatin gue mulu, gue jadi gak enak banget. Rasanya gue mau meledak di tempat itu juga.
Setelah beberapa jam berkeliling, akhirnya dapet juga.
“Nih gue udah dapet kado nya. Pulang yu udah sore nih.”Kataku sambil melihat jam sudah menunjukan pukul 14.30.
“Yu, tapi gue pengen ngajak lo makan dulu. Yu ke lantai atas.”Katanya sambil mengengam tanganku lagi, kali ini sangat erat dan terasa dingin, seperti dia sedang gugup.
“Nat, kira-kira dia bakal suka gak ya dengan kado ini?”
“Pasti suka, soalnya apapun yang kau beri jika dia melihat ketulusan hatimu, pasti dia akan menerimanya,Gi.”Kataku menenangkan Algi.
“Hahaha lo bisa aja. Puitis banget sihh lo.”Katanya sambil makan dengan lahap.
“Ya iya lah, secara gitu gue.”
“Eh itu di pipi lo ada apa?”Katanya sambil mengusap pipiku dengan tisu.
“Ada apa Gi?”Kataku panic.
“Nggak ada apa-apa koq, cumaaaaaaaaa gue pengen nyubit pipi lo yang tembem aja. Hahaha” Kata nya sambil tertawa dengan keras.
Setelah selesai makan, kami akhirnya pulang. Dia mengantarkanku sampai ke depan gerbang kostanku.
“Makasih ya Nat udah nganter gue. Lo cantik dehhh tapiiiiiiiii lo tembem banget hahahah” Katanya sambil langsung cabut meng’gas motornya.
Gue Cuma bisa tersenyum aja sambil berdoa untuknya, semoga dia selamat.
Keesokan harinya, Algi sms gue lagi.
Nat, anter gue ke ulang tahun temen gue yu.
Gue sebenarnya bingung, kenapa dia mau ke ulangtahun temennya sih? Padahalkan aku juga lagi ulangtahun hari ini.
Iya deh,balasku dengan kesal.
Gue udah didepan kostan lo. Cepetan keluar
Dengan sedikit berlari gue keluar.
“emang siapa yang lagi ulangtahun Gi?”
“Temen cewek gue. Yo berangkat takut telat.”
Setelah beberapa menit, akhirnya kita sampai ke suatu tempat. Disana sangat meriah dan begitu banyak orang. Dengan gugup ku ikuti Algi.
“Gi.”
“Apa Nat?”
“Nggak koq.”
“Selamat ulangtahun Melin.”kata Algi kepada orang yang bergaun putih.
“Makasih Algi, gak nyangka banget kamu datang. Biasanya lo gak pernah datang ke tempat kayak gini.”Kata orang yang dipanggil Melin.
“Eh kenalin nih temen gue.”
“Melin”
“Natasya.”Kataku sambil bersalaman dengannya.
“Mel, gue pengen ngomong sesuatu sama lo. Ini serius ya Mel. Mel, sebenernya gue udah lama nyimpen perasaan ini sama lo tapi gue gak pernah dapet keberanian buat ngungkapin perasaan ini. Me, GUE CINTA LO MEL, MAU GAK LO JADI PACAR GUE???”Kata Algi dengan tegas dan lantang.
Betapa sangat aku terkejut dan tak menyangka ini bakalan terjadi sama gue. Gue gak tahan menahan air mata yang hamper jatuh di pipi, namun gue terus berusaha tersenyum karena ingin mendengar jawaban dari cewek itu.
“Algi, AKU MAU KOQ JADI PACAR KAMU.”
Aku sangat drop, dan tak ku sangka tiba-tiba gue berlari dari tempat itu tanpa memperdulikan teriakan Algi. Gue terus berlari sambil meneteskan air mata kesedihan, tak ku sangka di hari bahagia ini aku malah mendapatkan sesuatu yang membuatku drop banget. Tak terasa gue berlari terlalu jauh dan gue gak tahu gue ada dimana. Gue bingung harus ngapain, gue duduk termenung menatap jalanan yang penuh dengan kendaraan.
Tiba-tiba, datang Mytha.
“Nat, lo kenapa?”
“Mytha, gue gak nyangka bangett, Algi nembak cewek lain didepan gue Myt. Gue bingung harus ngapain lagi.”Jawabku sambil menangis dipelukan Mytha.
“Kita pulang dulu aja ya.”
Akhirnya aku pulang dengan Mytha. Sepanjang perjalanan aku terus saja berpikir, kenapa dia tega sama gue. Kemarin dia memberi gue harapan sekarang malah membuat gue drop bngett.
Sesampainya di depan kostan, gue lihat Algi udah ada di depan kostan gue. Gue gak memperdulikan dia, gue langsung cabut lari ke kamar. Gue berharap  dengan gue istirahat, mungkin gue bisa menjadi tenang kembali.
“Natsya kenapa sih Myt? Kenapa dia tiba-tiba berlari dari acara?”
“Udah besok aja ngomongin nya, gue mau nenangin dia dulu. Kasian dia lagi ulangtahu tapi gue gak bisa ngelakuin apa-apa.”
“iya deh, gue pulang dulu ya. Titip salam buat Natasya.”
Setelah beberapa jam gue menangis, akhirnya aku keluar kamar karena ada yang mengetuk pintu kamar gue. Pas gue buka, ternyataaaaa
Happy birthaday Natasya………
Semua temanku ternyata ada disini, mereka semua ternyata ingat hari ulangtahunku, namun Algi tidak ada. Aku lega meski dia gak ada, gue pengen ngelupain Algi..
Kini kusadari, cinta itu tak mesti harus memiliki, mungkin dengan mencoba melihat dia tersenyum pun itu sudah cukup meski senyum untuk bukanlah untukku. I love you Algi……
Kata-kata itu kutulis di halaman akhir buku diary ku….
Cinta bukanlah hal yang harus diwujudkan dengan memiliki, namun cinta terasa indah bila kita mencintainya dengan hati yang ikhlas, tanpa mengharap akan terbalas, cukup melihat dia senang itupun sudah cukup untuk cinta yang tulus dari dalam hati.
-Chindy alpharesa-

Rabu, 10 Juli 2013

cerpen sahabat


MAWAR DAN MELATI
Aku dan Melati sudah lama berkawan. Sejak kecil kami selalu bersama, mungkin karena jarak rumah kami yang dekat, dan mungkin juga karena umur kami yang sama. Namun kami mempunyai sipat yang sangat bertolak belakang, Melati mempunyai sipat yang sangat lembut seperti bidadari, sedangkan aku mempunyai sipat seperti laki-laki, yaitu keras dan suka bertualang. Namun meski begitu kami sangat cocok dan selalu saling mengisi satu sama lain didalam suka dan duka.
Kami tinggal di sebuah desa yang sangat asri dan indah, sehingga banyak orang kota yang membuat villa di daerah kami. Mereka singgah di villa mereka untuk beristirahat maupun untuk berlibur di daerah kami, sehingga bila saat libur sekolah tiba banyak sekali orang kota di desa.
Aku dan Melati bersekolah di SMA yang alamatnya tidak akan aku ceritakan. Kami selalu berangkat bersama dan pulangpun selalu bersama-sama.
“Mawar, cepat sedikilah. Nanti kita kesiangan ke sekolah tahu.”Kata Melati kepadaku pada suatu hari.
“Ya, aku tahu Melati. Aku akan segera siap-siap.”Jawabku dengan santai.
 Aku memang selalu santai untuk berangkat ke sekolah meski waktu sudah siang dan kadang kami selalu terlambat ke sekolah. Namun aku tak tahu kenapa meski aku selalu membuat Melati kesiangan tapi dia selalu menungguku setiap pagi didepan kamarku. Dan seperti yang sudah dikatakan oleh Melati, kami pun terlambat masuk sekolah. Dan seperti biasa kami pun dihukum memebersihkan WC.
“Tuh kan, sudah kubilang pasti kesiangan, tapi kenapa kamu tuh koq susah kalau dibilangin sih.”Kata Melati kesal.
“Iya deh maafin aku. Aku kan gak sengaja. Tapi biasanya kan juga seperti ini.”Kataku mengelak.
“Iya, iya terserah kamu deh. Aku jengkel kalau sudah berdebat sama kamu.”
“Hahhh,,, cape banget.”Kataku saat kami sudah berada di kelas.
“Ya iyalah pasti. Kalian pasti dihukum karena kesiangan lagi kan.”Kata Amel dengan suara mengejek.
“Diem lu ah. Gue lagi pusing.”Kataku kasar pada Amel.
“Aaahhh da…..”Kata Amel terputus karena dipotong oleh Melati
“Sudah, sudah jangan berdebat dong, sebentar lagi pelajaran dimulai.”Kata Melati melerai.







 



Teng,, teng,, teng
“Achhchchchch, akhirnya pulang juga.”Kata Randy
“Ah kamu Ran, kamu kan di sekolah juga bukannya belajar, tapi malah molor aja kerjaan lu.”Kataku becanda.
“Eeeehh, meski aku suka tidur tapi aku mendengar apa yang guru terangkan tadi tahu.”
“Iya deh iya terserah kamu aja hahahahaha”
“Eh Mawar, sebentar lagi kan UN dimulai, gimana kalau kita belajar bareng yuk.”Kata Melati, saat kami sudah menuju rumah.
“Ayo, ayo aja kalau begitu mah.”Kataku sambil berlari meninggalkan Melati saat tiba di jalan yang suka membuat Melati takut.
“Hey, Mawar jangan tinggalin aku dong.”Kata Melati sambil berlari ketakutan.
Tiba-tiba,
“Awwww awww, Mawar tolong aku.”Kata Melati berteriak kesakitan saat dia terperosok pada sebuah lubang yang cukup dalam.
Sontak aku langsung kaget dan berlari kea rah Melati yang kesakitan.
“Mel, kamu gak papa?”Kataku kaget melihat darah dimana-mana.
“Gak papa gimana? Ini kakiku sakit banget tahu.”
“Oke, kalau begitu aku gendong kamu ke puskesmas ya Mel.”
Akhirnya, aku dengan perasaan kaget membawa Melati dipunggungku ke puskesmas yang tidak jauh dari tempat kejadian.
“Mbak, Melati gak papa kan?”Tanyaku pada petugas puskesmas.
“Enggak papa koq, cuma Melati gak akan bisa berjalan selama beberapa hari saja.”
“Oh terimakasih ya mbak.”Kataku sambil berjalan perlahan pada ranjang Melati.
“Mel? Maafin aku ya, gara-gara aku kamu jadi begini.”
“Iya gak apa-apa koq Mawar. Aku gak kenapa-napa koq. Kamu jangan khawatir gitu dong.”
“Huhhh siapa juga yang khawatir.”Kataku sambil manyun.
“Itu, liat kamu nampak khawatir banget.”
“Udahlah jangan menggodaku begitu. Ayo kita pulang.”Kataku sambil berlalu.
“Hey Mel. Gimana aku pulangnya? Aku kan gak bisa jalan.”
“oh iya, aku lupa hahahhaha. Sini aku gendong tuan putri.”
Nah itulah kisah SMA ku bersama Melati. Kini kami sudah besar dan kami sekarang berbeda kampus. Aku berada di Universitas di Bandung, dan Melati berada di Universitas Malang. Kami berkomunikasi hanya lewat surat saja, karena Melati tak mempunyai handphone. Karena menurutnya, handphone itu buat apa, hanya bikin kita lupa diri aja.
Namun, setelah beberapa bulan ini Melati tak pernah lagi mengirim surat padaku, meski aku sudah beberapa kali mengirim surat padanya, dan akhirnya aku menyerah. Aku tak pernah lagi mengirim surat padanya, aku hanya menunggu surat darinya.
Akhirnya tibalah masa wisudaku. Aku akhirnya lulus sebagai S1 dan aku langsung menjadi dosen di UPI. Aku senang sekali dan aku tak tahan ingin berjumpa dengan Melati. Aku pulang ke kampong halamanku dengan gembira. Dan aku tak menyangka Melati juga sudah menjadi dokter spesialis mata di salahsatu Rumah Sakit di Bandung yang dekat dengan UPI tempat aku bekerja.
Aku langsung mengunjungi rumah Melati, dan berjumpa dengan Melati.
“Hey Mel! Selamat ya kamu udah jadi dokter.”Kataku sambil menyodorkan tanganku untuk berjabat tangan dengan Melati.
“Makasih.”Kata Melati dengan nada suara tak suka.
“Eh gimana kabar kamu Mel? Ceritain dong kisah kamu di kampus. Kamu kan udah lama gak cerita sama aku.”Kataku dengan semangat membara.
“Kamu gak usah tahu lah.”
“Ya udah kalau kamu gak mau ngasih tahu mah. Aku nyerah deh.”
Setelah beberapa lama tanpa ada suara, akhirnya aku mengerti. Melati tak seperti yang dulu lagi, dia sekarang seperti yang benci sama aku. Aku tak tahu mengapa dia berubah 180 derajat kepadaku.
Semalaman aku berrpikir ddan tak bisa tidur dengan sikap Melati kepadaku tadi sore. Aku masih tak mengerti kenapa dia bisa begitu.
Pagi-pagi sekali aku sudah dikejutkan dengan kedatangan Randy pacarku.
“Hey Mawar, selamat pagi!”Teriaknya saat aku sedang duduk manis diruang tamu membaca buku novel kesukaanku.
“Hey Ran, koq kamu kesini sih?”
“Aku dan keluargaku sedang berlibur disini. Jadi kusempatkan mengunjungimu.”
“Oh ya? Jadi kamu bakalan lama dong disini?”
“Iya lah. Aku disini selama mungkin 2 bulan. Kami semua mengambil cuti dari perusahaan ayahku.”
“Oh ya? Aku juga libur selama 2 bulan loh. Jadi kita bisa menghabiskan waktu disini sama-sama dong.”
“Sipp, bagus deh.”
“Oh ya, aku kenalkan pada sahabatku dulu yuk.”
“Ayo.”
“Mel, mel? Ayo sini, kukenalkan kau pada seseorang.”Teriakku pada Melati, saat kulihat dia sedang duduk dipekarangan rumahnya.
“Siapa?”Katanya tanpa memandang kearahku.
“Nih Randy, ini pacarku yang dulu aku sering membicarakannya padamu.”
“Ya, aku mengenalnya jauh sebelum kau mengenal dia.”
“Benarkah? Bagaimana kau mengenalnya sebelum aku?”
“Ya, karena dia adalah teman kuliahku dulu sebelum aku pindah ke universitasmu, Mawar.”Kata Randy memotong pembicaraan kami.
“Oh kukira kalian belum saling kenal. Bagus deh kalau kalian sudah saling mengenal. Hahahaha”Kataku sambil tersenyum bahagia.
“Benarkah?”Kata Melati sambil melangkah pergi meninggalkan kami berdua. Kami hanya bisa saling memandang saja tanpa mengetahui kenapa dia jadi begitu.
“Kenapa dia?”Kata Randy heran
“Aku gak tahu dia sejak kemarin tak mau bicara denganku. Mungkin dia sedang marah padaku.”
“Oh, ya sudahlah kalau begitu. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri.”


Aku sangat tidak mengerti mengapa dia menjadi berubah sangat dingin kepadaku. Aku tak tahu mengapa. Namun tiba-tiba pada suatu hari Melati masuk Rumah Sakit. Dokter bilang penyakit Melati sudah parah, dia terkena leukemia yang tak mungkin bisa disembuhkan kembali.
 “Ya ampun Mel, kenapa kamu tak pernah bicara tentang hal ini kepadaku? Setidaknya aku ini tahu, karena aku adalah teman baikmu dari kecil. Teman macam apa aku ini. Temannya sakit aku tak mengetahui hal itu.”Jawabku sambil menangis didepan Melati yang tidak sadarkan diri.
“Sudahlah Mawar, jangan terlalu disesali. Ini adalah kehendak Tuhan.” Jawab ibunya Melati.
“Tante juga, kenapa ibu tidak pernah memberitahukannya padaku?”
“Tante tidak memberitahukannya padamu, karena Melati tak mau kau bersedih hanya karena dia.”Kata ibunya Melati menjelaskan.
Ibunya Melati menjelaskan begitu detail tentang penyakitnya Melati dan sangkut pautnya dia menjadi bersikap dingin terhadapku.
Kini aku mengerti, selama ini dia bersikap dingin dan tak mau bicara kepadaku, itu karena dia ingin membuat kenangan buruk untukku tentang dia, sehingga aku tidak terlalu bersedih atas kematiaannya dan dia ingin menyembunyikan semua kesedihan itu untuk dia seorang. Melati tidak mau jika aku juga ikut bersedih hanya gara-gara dia.
Aku terus saja menunggu Melati sadarkan diri. Aku ingin berbicara padanya.
Setelah beberapa hari Melati tak sadarkan diri, tiba-tiba mata Melati terbuka, dan dia memanggil namaku berulang-ulang.
“Mawar, mawar, mawar?”
“Ya aku disini Mel.”Jawabku sambil menggosok-gosokkan mata karena baru bangun tidur.
“Tante, paman, Randy, lihat! Melati sudah sadar.”Teriakku bahagia.
“Mawar, sebenarnya aku sudah terserang penyakit ini sedari kecil dahulu. Saat itu, kau bertanya padaku kenapa aku selalu mimisan kalau kecapean. Itu adalah awal aku menderita sakit ini Mawar. Aku merahasiakannya padamu, aku,,, aku,,, aku,,hiks hiks”
“Sudahlah aku sudah mengerti koq, ibumu sudah menjelaskannya padaku, jadi kau tak usah menghabiskan tenagamu untuk menjelaskannya. Tapi, ada satu hal lagi yang membuat aku kecewa”
“Apa itu?”
“Kenapa kau tak pernah menceritakan padaku bahwa kau pernah mencintai Randy, dan mungkin sampai sekarang kau masih mencintainya. Iya kan?”
“Darimana kau mengetahui hal itu Mawar?”
“ ibumu menjelaskan semua itu dengan sangat detail kepadaku.”
“Ya, aku memang pernah mencintai Randy, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah bisa melupakan dia.”
“Kenapa kau tak mengatakannya dulu Mel. Dulu saat aku belum pindah dari kampusmu. Mungkin jika kau mengatakannya aku sudah jadi pacarmu sekarang.”Jawab Randy
“Aw, hey kau cemburu ya?”Kata Randy saat aku mencubit dia.
“Bukan, aku hanya ingin mengatakan bahwa ini bukan saatnya bercanda, kami sedang bicara serius tahu.”Kataku pada Randy sambil mencubit perutnya satu kali lagi. Sontak teriakannya itu keras sekali dan membuat semua orang menjadi tertawa,tak terkecuali Melati.
Akhirnya setelah beberapa bulan Melati bertahan, pada hari jum’at pukul 12.00 am Melati menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tempat dia dirawat. Semua orang Nampak muung dengan kepergian Melati. Aku juga tak menyangka umur Melati begitu sangat pendek.
Aku akan selalu mengenangmu dihatiku. Dan akuu yakin kau selalu ada disampingku meski aku tak dapat melihatmu lagi kawan. Terlalu banyak kenangan yang kulalui bersamamu. Saat kuingat hal itu, aku yakin kau juga tak pernah melupakannya. Doaku selalu menyertaimu.   Aku pasti akan datang menyusulmu………