Minggu, 18 Agustus 2013

Cinta Itu Indah


Inalillahi waina ilaihi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah Meicha Andania Dewi bin Ahamad Ramdhana. Beliau akan dimakamkan di TPU Bandung. Bagi yang ingin melayat datanglah ke rumah ayahanda Meicha.
“Bunda, kenapa kak Meicha diem mulu? Kenapa kak Meicha pucet sama dingin banget mah?” Tanya Meisya, adik dari Meicha sendiri.
Bunda tidak menjawab pertanyaan Meisya sedikitpun. Bunda masih shock dengan kepergian Meicha yang secara tiba-tiba. Meicha meninggal pada saat pagi hari sebelum dia berangkat menemui Elgi. Tiba-tiba dia terjatuh di tangga, entah mengapa Meicha tiba-tiba terjatuh. Saat itu Bunda berteriak keras sekali, karena Meicha tersungkur dengan penuh darah dan sudah tidak ada denyut nadinya sedikitpun.
Dengan penuh isak tangis dan duka yang mendalam, akhirnya jasad Meicha terkubur dengan tanah merah dan bunga-bunga yang bertaburan. Elgi sang kekasih Meicha begitu sangat terpukul dan tak sanggup melihat jasad Meicha. Ia tak menyangka akan ditinggal pergi selamanya oleh sang kekasih dengan tiba-tiba tanpa isyarat sedikitpun.
“Nak, bunda disini selalu mendo’akanmu.” Kata Bunda dengan penuh isak meninggalkan makam Meicha yang masih basah.
“Sayang, ayah pulang dulu ya. Kasihan ibumu.” Kata ayah.
“Aku selalu mencintaimu, hati ini akan selalu menyimpan kenangan yang indah bersamamu. Dahhh bawel.” Kata Elgi mencoba tegar meski hatinya penuh luka dalam.
Hati Elgi masih tak menyangka dia telah pergi, serasa bermimpi. Tak kuat rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kita sayang, apalagi orang yang sudah memberi warna yang indah di dalam hidup kita.
Bunda belum kuat untuk membereskan barang-barang Meicha yang masih berada di kamar Meicha. Akhirnya yang membereskan adalah Elgi. Saat Elgi akan membereskan kamar kekasihnya, dia tak menyangka ternyata barang-barang Meicha sudah tertata rapi seperti yang sudah dibereskan. Elgi bingung, karena menurut pengakuan, kamar Meicha belum ada membereskan. Namun ternyata ada sebuah buku kecil dengan manis tersimpan di atas meja belajar Meicha. Hampir saja Elgi melempar buku tersebut ke dalam kardus, namun saat akan melemparnya, Elgi tak sengaja membaca sampul buku tersebut yang berjudul “Diary hidupku”.
Dipandanginya buku kecil itu dengan penuh tanda tanya. Haruskah aku membacanya? Batin Elgi terus dipenuhi pertanyaan. Akhirnya dengan hati penuh khawatir, Elgi membuka buku diary itu.
Saat tiba di halaman pertama, sambil membayangkan apa yang Meicha tulis di diarynya Elgi membaca dengan seksama.
Tanggal 22 July 2010, hari ini hari pertama aku sekolah di SMA,
Saat itu, dengan penuh semangat yang membara Meicha pergi ke sekolah untuk mengikuti MOPD yang diadakan oleh sekolahnya meski sebenarnya Meicha baru saja sembuh dari sakit yang dideritanya. Bunda Meicha sudah melarang Meicha untuk tidak terlalu aktip, karena sang bunda sangat khawatir dengan keadaan Meicha.
“Waaahhhh luas banget sekolahnya. Indah banget.” Batin Meicha berkata.
“Hey, dek ayo masuk kelas, udah masuk tuh. Ntar telat mengikuti MOPD lohhh.” Kata seorang kakak pengurus OSIS.
“Iya kak.” Kata meicha tanpa melihat siapa yang menyuruhnya.
“Wahh dia cantik banget ya Gi.” Kata seorang teman dari kakak pengurus OSIS yang tadi menyuruh Meicha.
“Hahahahaha, masa sih?”
“Iya lu liat aja, wajahnya bersih seperti salju, pipinya merah merona bagaikan apel yang ranum. Hmmm manis banget ya Elgi.”
“Iya, terserah saja. Dasar tukang puitis.” Kata orang yang ternyata dialah Elgi.
Hari pertama MOPD terlewati dengan penuh senyum indah Meicha. Sepanjang hari Meicha tak henti-hentinya tersenyum. Dia tak menyangka, ternyata MOPD itu menyenangkan sekali, karena dulu saat MOPD di SMP Meicha tidak mengikutinya.
Tanpa Meicha sadari, ternyata ada seseorang yang selalu memperhatikan gerak geriknya. Dia selalu memberikan semangat kepada Meicha. Siapapun yang ingin menyakiti Meicha, dia selalu ada untuk membela Meicha.
“Hey dek, kamu dulu sekolah dimana?” kata Elgi mendekati Meicha.
“Emmmm di SMP Pasundan 5 kak. Emang kenapa kak?” kata Meicha polos.
“ahhh enggak. Kakak Cuma nanya doing koq. Ehh dulu MOPD di SMP gimana?”
“Emmm dulu aku tidak mengikuti MOPD, karena aku lagi dirawat di rumah sakit.”
“Ohhh, baru sekarang dong kamu mengikuti MOPD. Semoga kamu suka ya MOPD disini.” Kata Elgi dengan penuh senyum sambil pergi.
17 oktober 2011
Hari demi hari dilewati Meicha dengan indah, karena selalu diperindah dengan kejutan-kejutan yang diberikan Elgi. Meicha selalu merasa ada yang menjadi seseorang yang selalu ada disampingnya.
Namun, suatu hari Elgi tidak muncul-muncul dihadapan Meicha. Meicha sangat khawatir dengan keadaan Elgi. Dia takut terjadi apa-apa dengan Elgi. Meicha terus menunggu kedatangan Elgi. Biasanya Elgi selalu datang saat pagi hari dan saat istirahat kedua, namun hari ini kenapa dia tak datang?
Pada saat akan pulang, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menarik tangan Meicha dengan sangat kuat. Terpaksa dengan berlari Meicha mengikuti orang yang telah menarik tangannya. Meicha tidak tahu siapa yang telah menarik tangannya, karena mukanya tertutup oleh topeng.
Dengan perasaan takut, Meicha duduk di kursi taman belakang sekolahnya. Menunggu orang yang tadi menarik tangannya. Tiba-tiba,
“Happy birthday Meicha, selamat ulangtahun Meicha.” Kata Elgi sambil memegang kue brownis dengan lilin menyala diatasnya.
“Hahhhh??? Kau ingat hari ulangtahunku? Kukira kau lupa.”
20 Oktober 2011
Setelah kejadian itu, Elgi tidak pernah muncul dihadapan Meicha lagi. Meicha sangat merasa kehilangan atas itu. Dengan penuh keberanian, Meicha datang ke kelas Elgi.
“Kak Gilang, kakak tahu gak Elgi kemana?” tanya Meicha kepada teman Elgi.
“Hah, Elgi? Oh kamu tidak tahu ya? Elgi sedang keluar negeri menjenguk kakeknya.”
“ohhh. Makasih ya kak.”
“Ya.”
Dengan langkah gontai, Meicha melangkah pergi dari kelas Elgi. Kerinduan yang Meicha rasakan membuat Meicha menjadi sangat pendiam. Meicha sangat merindukan Elgi. Meicha tidak pernah merasakan rasa sakit seperti rasa sakit yang dialaminya saat ini. Didalam kesendirian, Meicha selalu menangis, meicha ingin bertemu dengan Elgi.
25 Februari 2012
Pada suatu hari, tiba-tiba, di depan pintu rumah Meicha berdiri seseorang. Ternyata dia adalah Elgi. Dengan berlari, Meicha menghambur memeluk Elgi dengan sangat erat sambil menangis.
“Kamu kemana saja Gi? Aku kangen kamu. Aku ingin bersamamu, aku mencintaimu Gi. Aku ingin kamu selalu ada disisiku. Aku tak ingin kau pergi dari sisiku.”
Namun Elgi tidak menjawab hanya tersenyum menatap wajah Meicha yang sangat sedih. Ternyata dia bukan Elgi, tetapi itu hanya khayalan meicha saja. Karena kejadian itu, Meicha sangat kecewa, dan jatuh sakit. Setiap hari Meicha selalu menunggu kedatangan Elgi dengan penuh harap. Keadaan itu membuat penyakit Meicha kambuh lagi. Meicha mulai merasakan rasa sakit yang dulu pernah hilang kini datang kembali.
(Meicha, kenapa kau tak pernah bercerita tentang hal ini?)
Meicha merasa inilah detik terakhirnya hidup. Namun demi untuk bertemu Elgi, Meicha berusaha bangkit dari sakitnya. Sehingga, Meicha bisa pulang dari rumah sakit.
Pada saat akan memasuki rumah Meicha, dia melihat Elgi sudah menunggu didepan pintu dengan penuh senyum menawan dan menenteng kado ditangannya.
 Namun, untuk kali ini meicha tidak langsung memeluk Elgi. Dia takut ini hanya khayalannya lagi. Dengan hati penuh pertanyaan, Meicha mendekati Elgi. Setelah memastikan bahwa ini bukan khayalan, Meicha menampar Elgi dengan keras.
“Kamu kemana aja? Kenapa kamu tak pernah memberi kabar kepadaku? Kamu tahu tidak, aku disini mengkhawatirkanmu, aku takut kau pergi. Aku tak ingin…”
“Sttttttt, udah yang penting kan aku udah ada dihadapanmu, jadi jangan sedih lagi ya. Aku juga menyayangimu. Bahkan aku mencintaimu. Maukah kau menjadi orang yang special dihidupku?” kata Elgi mengejutkan Meicha.
“Aku aku aku….”
“Ya sudah jika kau butuh waktu tidak apa-apa. Kau boleh berpikir dahulu, tapi jangan lama-lama ya. Aku gak suka menunggu.” Katanya sambil memberikan sesuatu pada Meicha dan langsung berjalan menjauh dari Meicha yang masih bengong.
Namun, saat Elgi sudah jauh meninggalkan Meicha, tiba-tiba Meicha berlari memeluk Elgi dengan erat tanpa peduli apapun.
“Aku mau koq jadi pacar kamu.” Kata Meicha dengan nafas penuh sesak.
(kenangan manis itu selalu ada didalam hatiku.) saat Elgi berhenti menarik nafas sebelum membaca kembali.
Sejak saat itu, Elgi dan Meicha resmi menjadi pasangan kekasih. Namun ternyata Meicha menyembunyikan sesuatu dari Elgi. Jauh didalam lubuk hati Meicha, Meicha sangat merasa bersalah atas apa yang telah disembunyikannya, namun itu adalah yang terbaik menurutnya.
5 Juli 2012
 Suatu pagi yang mendung, Meicha datang terburu-buru ke taman. Disana sudah menunggu Elgi dengan penuh kekecewaan.
“Kenapa kau terlambat?” kata Elgi dengan wajah marah, karena dia sudah menunggu Meicha 3 jam lamanya.
“Maafkan aku. Aku…”
“Sudahlah aku tak ingin mendengar penjelasanmu.” Kata Elgi sambil berlalu.
Tak beberapa lama setelah Elgi pergi, turunlah hujan lebat yang membasahi tubuh Meicha. Meicha tetap merunduk ditengah-tengah taman yang sepi sendirian tanpa seorangpun yang menemaninya. Namun, tiba-tiba tidak terasa lagi hujan yang membasahi tubuh Meicha, ternyata Elgi datang kembali sambil membawa payung. Elgi datang kembali dan melindungi Meicha dari hujan yang sangat deras.
“Terimakasih Elgi. Kau datang kembali untukku.”
“Sama-sama sayangku bawel. Aku akan selalu melindungimu.”
“Apakah kau sudah tidak memarahiku?”
“Tentu saja tidak.”
(sebenarnya, aku terlambat datang adalah karena aku pergi cek up ke rumah sakit. Aku tidak menyangka ternyata sangat lama.) jelas Meicha di dalam buku diarynya.
“Ya ampun, mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Mungkin jika kau jujur kepadaku aku tak akan marah. Tapi, sebenarnya kamu memiliki penyakit apa?” kata Elgi mengomentari.
Elgi tidak merasa ternyata dia sudah berada dihalaman terakhir. Dihalaman terakhir terdapat catatan khusus, ditulis dengan tinta warna merah.
17 oktober 2012
Aku sangat mencintaimu, Elgi. Maafkan aku telah membohongimu tentang penyakitku. Aku sangat merasa bersalah akan hal itu. Aku mengidap kanker otak stadium akhir Gi.
Tahun ini kau lulus dengan nilai yang sempurna, tapi saat itulah saat terakhir kita bersama. Kau akan pergi ke London dan aku tetap disini melanjutkan sekolahku. Sebenarnya aku ingin selalu berada didekatmu.
Apakah bila tiba saatnya aku pergi meninggalkan dunia ini aku masih bisa melihatmu dan menemanimu sampai ajal menjemputmu?
Aku akan selalu mencintaimu meski ajal ini menjemputku dan pergi membawa nyawaku pergi tanpa bisa kembali lagi.
Aku rasa umurku sudah tak lama lagi. Mungkin hanya kata  AKU CINTA KAMU SELAMANYA WALAU NYAWAKU SUDAH PERGI  JAUH DARI SISIMU, NAMUN AKU AKAN SELALU HIDUP DI HATIMU DENGAN KASIH SAYANGKU UNTUKMU. ABADIKANLAH CINTA KITA DIDALAM KENANGAN KITA……”.
MAAFKAN AKU SAYANG………
“Aku juga mencintaimu Meicha. Aku akan selalu mencintaimu…”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh Elgi lemas dan akhirnya Elgi dilarikan ke rumah sakit.
Setelah beberapa hari koma, akhirnya nyawa Elgi sudah tak tertolong dan akhirnya Elgi menghembuskan nafas terakhirnya dengan mendekap buku harian Meicha dengan penuh senyum.
Tenyata Elgi mengidap penyakit jantung. Pada saat ke luar negeri, dia bukan untuk menjenguk kakeknya tapi untuk operasi jantungnya yang sudah parah. Dan dia juga sudah membuat catatan kecil didalam boneka yang akan dihadiahkannya pada hari dimana Meicha meninggal, karena hari itulah hari dimana Meicha berulangtahun yang ke 17.
Memang, cinta itu kadang tak harus terukir abadi  di pelaminan. Tapi kadang cinta itu terukir abadi didalam kematian yang akan menimpa siapa saja.
Jangan pernah sia-siakan rasa kasih sayang dan cinta dari seseorang, karena kita hidup di dunia ini dengan penuh kasih sayang Tuhan dan orang-orang disekitar kita.
-Chindy Alpharesa-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar